Tiga Pilihan Berwisata Kereta Api

Tertarik berwisata dengan kereta api di Ranah Minang?
Saat ini ada tiga pilihan. Pertama, wisata kereta api
ke Lembah Anai dengan lokomotif bergigi melintasi
panorama Lembah Anai yang sangat cantik.

Manajer Kereta Api Wisata PT KAI Sumatera Barat
Busrizal mengatakan, kereta api bisa disewa dari
Padang ke Padangpanjang yang melewati Lembah Anai
dengan tarif Rp10 juta per hari dengan kapasitas 190
orang.

Pilihan kedua, naik kereta api dari Padang ke pantai
Pariaman. Naik kereta api wisata adalah pilihan
terbaik jika Anda ingin berwisata ke Pariaman. Kereta
api ini hanya beroperasi setiap Minggu dengan tiket
pulang-pergi Rp25.000 untuk kelas eksekutif dan biasa
Rp15.000. Berangkat pukul 8.00 WIB dari Stasiun Kereta
Api Simpang Haru, Padang dan kembali lagi pukul 14.00
WIB dari Stasiun Pariaman.

Selain itu bisa juga menyewa kereta pada hari biasa
dengan tarif Rp5 juta dengan kapasitas 300 orang.
Kereta api ini kecepatannya hanya 20 km per jam,
sehingga jarak kurang dari 70 km ditempuh selama
hampir 2,5 jam. Meski begitu, pemandangan hamparan
sawah dan deretan kelapa menyejukkan mata dan membuat
kita rileks. 

Pilihan ketiga, naik kereta api ke Sawahlunto. Naik
dari Stasiun Muaro Kalaban yang hanya berjarak 5 km
dari Kota Sawahlunto. Sebenarnya ini bukan kereta api
beneran, cuma lori wisata yang ditarik mesin
mitsubishi L-300 di atas bekas rel kereta api. Tapi
cukup menarik untuk menelusuri jejak kereta api Zaman
Kolonial Belanda. Tiketnya amat murah, hanya Rp3.000.

Dengan lori wisata ini kita dibawa melewati terowongan
kereta api sepanjang 900 meter. Terowongan ini
dilengkapi dengan kamar-kamar kecil di kiri kanan.
Dulunya tempat orang atau pekerja tambang menghindar
jika kereta api lewat. Lori ini berhenti di Stasiun
Sawahlunto yang sekarang disulap menjadi Museum Kereta
Api Sawahlunto. 

Di museum ini dipajang benda-benda kereta api pada
masa lampau seperti gerbong-gerbong dan lokomotif
kereta api zaman lalu. Termasuk lampu sinyal dan
timbangan barang dan brankas zaman belanda dengan
kuncinya yang sebesar tangan.

Sejarah kereta api di Sumatera Barat memang dimulai
dari ditemukannya cadangan batubara di Sawahlunto
akhir abad-19 lalu. Belanda membangun jalur kereta api
dari Pelabuhan Emma Haven (sekarang Pelabuhan Teluk
Bayur) dari Padang ke Sawahlunto sepanjang 155,5 km. 

Tidak hanya ke Sawahlunto, beberapa jalur kereta api
juga dibangun sebagai sarana angkutan umum ke berbagai
kota di Sumatera Barat seperti Lubuk Alung--Pariaman
(20,9 km), Padang--Padangpanjang (68,3 km), dan 
Bukittinggi--Payakumbuh (33 km). Bahkan jalur kereta
api sampai ke Muara Padang. Totalnya ada 240 km jalur
kereta di Sumatera Barat. 

Menipisnya cadangan tambang batu bara pula yang
mengakhiri masa kejayaan kereta api di Sumatera Barat
sejak 2003. Sayang bila kini aset peninggalan Belanda
yang amat bersejarah ini dibiarkan menjadi besi tua,
seharusnya dilestarikan, seperti dikelola untuk kereta
api wisata. (Febrianti)

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + ten =