Railbus Tiba, Rel ke BIM tak Tuntas

Perjuangan masyarakat Sum­bar di ranah dan rantau untuk memiliki ke­reta api cepat atau railbus sejak tahun 2007, yang akan melayani rute simpang Duku me­nuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padangpariaman, akhirnya terealisasi di peng­hujung tahun ini.
Satu set railbus yang dibawa dengan kapal Les­tari Abadi 03 dari Pelabuhan Tanjung Pe­rak, Surabaya pada 9 Desember lalu, telah tiba di Pelabuhan Teluk Bayur, dan dibawa ke stasiun kereta api Simpang Haru Padang. Railbus buatan PT Industri Kereta Api Madiun, Jawa Timur itu, berkapasitas 150 tempat duduk.
Sekjen Masyarakat Peduli Kereta Api Sumbar (MPKAS), Yulnofrins Napilus mengatakan, railbus yang sedianya untuk kereta api ke BIM, untuk sementara dipakai untuk perjalanan wisata Padang-Pariaman sembari menunggu rel ke BIM rampung.
“Idealnya memang tiga set railbus, tapi karena sudah diberi satu dulu, ya kita harus berterima kasih,” ujar perantau Minang yang intens mengawal bangkitnya perkeretapian Sumbar sejak 2006 lalu.
Sebelum railbus ini, kata Yulnofrins, Sumbar sudah pula mendapatkan 10 gerbong kereta api, termasuk Mak Itam bernilai puluhan miliar rupiah, yang dimanfatkan untuk menunjang wisata di Ranah Minang.
Menurutnya, Sumbar menjadi provinsi pertama di Indonesia yang bekerja sama dengan PT KAI untuk mengoptimalkan aset bernilai triliunan rupiah yang selama ini “tidur” untuk mendukung industri pariwisata.
“Ini momentum kebangkitan perkeretapian Sumbar yang perlu kita syukuri. Namun yang perlu diingat dan kita hargai, semua ini tidak lepas dari perjuangan MPKAS yang dipimpin almarhum Chaidir Latief bersama Gamawan Fauzi ketika jadi Gubernur Sumbar yang menemui Dirjen PT KAI Soemino 27 Januari 2007,” ungkapnya.
Yulnofrins yang dikenal eksis mempromosikan wisata Sumbar, termasuk mendorong hadirnya Tour de Singkarak di Sumbar, menyebutkan, daerah mesti proaktif mengajukan permintaan ke pusat sehingga pemerintah memprioritaskannya, serta proaktif berperan dalam pembebasan lahan untuk rel kereta api.  Apalagi Sumbar memiliki potensi wisata yang besar yang jika tidak ditunjang sarana pendukung, salah satunya kereta api ini.
“Seperti di Sawahlunto, dengan adanya Mak Itam, seharusnya daerah bersama travel agent bisa mengemasnya menjadi salah satu daya tarik wisata dan membuat paket wisata tersendiri, agar tidak dipakai untuk kepentingan nonkomersial,” ujarnya.
Manajer Humas PT KAI (Persero) Divre II Sumbar, Romeyo mengatakan, railbus ini dikenal unik, karena mempunyai tenaga penggerak sendiri dan mempunyai kabin masinis di muka dan belakang. Sedangkan kereta api biasa, hanya ditarik dengan lokomotif.
“Kelebihan railbus ini, kita tidak perlu lagi berbalik arah jika sudah sampai ke tujuan. Kalau ingin kembali ke tujuan semula tidak perlu berbalik, karena di bagian depan dan muka bertugas menjadi penggerak,” ungkap Romeyo.
Dengan adanya railbus, Romeyo berharap Pemprov Sumbar dan Pemkab Padangpariaman dapat menyegerakan pembebasan lahan untuk pembangunan jalurnya. “Kereta apinya sudah ada. Tinggal pemerintah menyegerakan untuk pembangunan jalurnya,” imbuh Romeyo.
Kepala Satuan Kerja (Satker) Sumbar, Amana Gappa mengungkapkan, pembangunan jalur kereta api sepanjang 4,2 km dari Stasiun Duku ke BIM menelan biaya Rp 114,3 miliar, dimulai tahun 2012.
Tahap pertama, pemerintah pusat melalui APBN 2012 mengalokasikan Rp 56,5 miliar. Sisanya bakal dialokasikan dalam APBN Perubahan 2012. Pembangunan tahap awal difokuskan untuk badan jalan dan jembatan. Namun, kelancaran pembangunan jalur ini tergantung pada upaya Pemkab Padangpariaman membebaskan lahan. “Railbus itu didanai dari APBN tepatnya dari Dirjen Perkeretaapian,” terangnya.
Penggunaan anggaran tahap pertama, terdiri pembangunan badan jalan kereta api Duku-BIM Rp 27,9 miliar, pembangunan jembatan kereta api sepanjang 90 meter Rp 28,58 miliar. Lalu, detail engineering design (DED) Rp 2,3 miliar dan project management service Rp 750 juta.
Belum Jelas Jadwal Operasi
Kasi Perkeretaapian Dinas Perhubungan dan Kominfo Sumbar, Firwan Tanjung mengaku belum tahu railbus itu dioperasionalkan, dan siapa yang akan mengoperasikannya. “Masih menunggu memorandum of understanding (MoU) dengan berbagai pihak terkait. Saat ini, kami baru menerima bantuan itu dari Kementerian Perhubungan,” katanya.
Dari informasi yang dihimpun Padang Ekspres, serah terima dari Kemenhub ke Pemprov Sumbar dilakukan Rabu (2/1) mendatang. Setelah dilakukan rapat bersama antara Kementerian Perhubungan, Dinas Perhubungan, PT Inka, serta PT KAI. “Saat ini serah terima barang tersebut belum diketahui,” katanya.
Menurut Firwan, kapal yang membawa raibus itu telah lego jangkar selama tiga hari lalu di Teluk Bayur. Namun karena cuaca buruk, railbus batal diturunkan Sabtu (28/12) dan baru berhasil diturunkan kemarin (30/12) sekitar pukul 20.00

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three + 7 =