Nofrins, di Balik Geliat Pariwisata Sumbar

Ir. Nofrin Nafilus
Ir. Nofrin Nafilus

”Kacamata” baru tentang kampung halaman diperoleh Nofrins justru setelah dia lama merantau ke luar Sumatera Barat. Keelokan alam yang merupakan potensi pariwisata di tanah kelahiran itu baru disadari setelah dia mengunjungi daerah dan negara tetangga.

Kesadaran itu meresahkan pemilik nama lengkap Yulnofrins Napilus. Ketika tak banyak orang yang menjadikan keresahan itu sebagai pendorong tindakan nyata, dia termasuk ”tangan tak terlihat” yang ikut memajukan pariwisata Sumbar.

Berawal dari hobi memotret, Nofrins lantas mengoleksi foto-foto keindahan panorama Sumbar, mulai dari pantai, pegunungan, dan obyek-obyek wisata lain di Sumbar.

Memanfaatkan keahlian kawan membuat situs, dia merancang situs yang berisi foto-foto berobyek alam Sumbar. Mula-mula, hanya foto jepretan kameranya serta beberapa koleksi kawan yang terpajang di situs west-sumatra.com tersebut.

Nofrins lalu menggandeng teman dan kenalan fotografer dari luar Sumbar untuk datang dan memotret daerah ini. ”Saya ingin orang dari luar Sumbar yang memotret karena mereka umumnya bisa melihat hal menarik yang selama ini dipandang biasa-biasa saja oleh orang Sumbar,” ujar Nofrins yang meninggalkan Sumbar sejak kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kini, situs yang dirintis tahun 2005 itu ramai diisi oleh fotografer dari berbagai daerah. Orang asli Sumbar pun banyak yang memasukkan foto ke situs ini. Setiap ada acara di Sumbar, Nofrins mengabari para pembidik foto agar ikut mengabadikan momen yang nantinya ditayangkan di situs itu.

Nofrins dg Fotografi KA Wisata

 

Penikmat foto dan pemberi komentar situs ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat Sumbar sampai para wisatawan dari berbagai negara. Sampai pertengahan Maret 2009, pengunjung situs ini lebih dari satu juta orang.

Beberapa foto yang ditampilkan di situs ini bahkan dibeli sejumlah instansi. Jual-beli foto itu langsung menjadi urusan fotografer.

”Saya tak ada orientasi berjualan foto. Keinginan saya adalah memperkenalkan Sumbar lewat foto. Mereka yang ingin menggunakan foto saya tidak dikenai biaya, gratis,” tutur Nofrins.

Rengkuh perantau

Gambar-gambar keindahan Sumbar ini rupanya menggoda perantau Minang di seluruh dunia. Lewat milis perantau, Nofrins turut menggulirkan ide ”pulang basamo”. Pulang kampung yang tak sekadar kembali ke kampung keluarga, tetapi juga mengunjungi daerah lain di Sumbar sekaligus mengajak satu orang non-Minang berkunjung bersama.

”Kalau satu wisatawan menghabiskan Rp 1 juta, berapa banyak uang yang masuk ke Sumbar? Pariwisata itu melibatkan semua lapisan masyarakat secara langsung, dari sopir taksi, pedagang kaki lima, hingga rumah makan. Semua mendapatkan untung langsung dari kunjungan wisatawan,” tuturnya.

Upaya merengkuh perantau ini ditambah pertemuan dengan mereka di pelbagai negara. Pertemuan itu dilakukan di sela-sela urusan dinas perusahaan yang mengharuskan Nofrins ke luar negeri. Hasilnya, terbentuk kelompok-kelompok perantau di luar negeri yang ikut mengoordinasikan ”pulang basamo”.

Bola yang dia gelindingkan semakin besar. Kepalang basah, Nofrins kemudian terjun juga menggagas perkembangan pariwisata lewat kereta api.

”Awalnya saya foto rel kereta yang sudah ditumbuhi rerumputan dan tidak terawat. Padahal, pemandangan alam yang dilewati kereta api ini luar biasa indah, melewati sejumlah tempat seperti Lembah Anai dan Danau Singkarak,” ujarnya.

Provokasi lewat gambar itu dia lengkapi dengan penyebaran informasi tentang potensi kereta api yang terbengkalai. Informasi itu disebarkan lewat milis para perantau serta pesan singkat di ponsel. Upaya tersebut bisa membentuk gerakan untuk mengembalikan lokomotif uap.

Media massa pun tidak luput dari sasaran pesan singkat maupun surat elektronik yang disebarkan Nofrins, yang antara lain berisi informasi mengenai perkembangan pemulangan kereta api yang mendapat sebutan Mak Itam.

Begitu kerapnya dia mengirimkan pesan singkat lewat ponsel, sampai-sampai ada saja perantau atau kerabat yang justru meminta Nofrins terus mengirimkan perkembangan kabar terbaru.

”Eh Nofrins, jaan sampai mati ko nak, iko buek pelapeh taragak kami dek rantau ko mah (jangan sampai hilang, itu buat pelepas kangen kami yang merantau),” pesan seorang perantau seperti ditirukannya.

Jalur emas

Kegelisahannya pada aset berharga itu diembuskan Nofrins kepada sejumlah pihak. Lambat laun, kesadaran untuk menjadikan kereta api sebagai bagian dari sektor pariwisata mulai terbangun.

Kegelisahan sejumlah pihak itu kemudian melahirkan Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera Barat (MPKAS). Anggotanya memang belum banyak, paling-paling 10 orang di Sumbar dan Jakarta. Namun, simpatisan kereta api turut mendukung ”ular besi” ini kembali dihidupkan.

Satu demi satu prasarana kereta api disiapkan dengan bantuan berbagai pihak. Rel yang tidak terurus mulai dibenahi, terutama untuk jalur Padang Panjang-Sawahlunto. Jalur ini merupakan jalur emas pertambangan batu bara sejak akhir abad ke-19.

Lobi untuk memulangkan lokomotif uap itu dari Ambarawa ke Sawahlunto ini tidak mudah. Nofrins menghabiskan sekitar 1,5 tahun untuk melobi pemulangan Mak Itam. Rencana itu pun masih diragukan banyak pihak, antara lain karena tidak adanya teknisi loko uap di Sumbar. Namun, dia tak putus asa.

Gerakan para perantau juga dia gunakan untuk mendesak agar lokomotif dikembalikan ke Sawahlunto. Tidak lupa, kekuatan foto menjadi bagian penting dari keputusan pemulangan lokomotif uap itu. Akhirnya, Mak Itam kembali ke Sawahlunto pada Desember 2008.

Hubungan baik dengan sejumlah sponsor membuat Nofrins mudah mendapatkan bantuan, antara lain untuk pengecatan rel kereta api menjadi berwarna-warni, serta gerbong kereta yang juga digambari.

Gerakan untuk menyemarakkan pariwisata di Sumbar tak berhenti sampai di sini. Nofrins juga ikut mempromosikan keberadaan lokomotif uap tersebut kepada sejumlah artis. Akhir Februari lalu, sejumlah artis datang ke Sumbar atas ajakannya. Sayangnya, para artis ini tak banyak ”digunakan” untuk mempromosikan pariwisata dan kereta apinya.

Tak berhenti pada Mak Itam dengan jalur Padang Panjang-Sawahlunto, Nofrins berharap jalur kereta api Padang Panjang-Payakumbuh juga bisa dihidupkan kembali. Namun, tambahnya, pemulihan jalur ini tergolong berat karena sebagian jalur tersebut sudah ”ditumbuhi” rumah.

Meski begitu, ia tetap berusaha. Maka, tak lama kemudian muncul lagi pesan singkat di ponsel dan surat elektronik Nofrins yang mengabarkan perkembangan dukungan pemulihan jalur Padang Panjang-Payakumbuh. Taruih, da….

Dimuat di Harian KOMPAS, Kamis 8 Apr 2009 hal.16: “Sosok”
oleh: AGNES RITA SULISTYAWATY
Photo @ KOMPAS/AGNES RITA SULISTYAWATY
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/08/03293565/nofrins.di.balik.geliat.pariwisata.sumbar

Post navigation

3 thoughts on “Nofrins, di Balik Geliat Pariwisata Sumbar

  1. Sengaja saya menambahkan judul “Sumbar Rugi Tanpa Nofrin”, sesungguhnya adalah
    lontaran Pak Asril (Direktur Keselamatan Kereta Api, Dephub) sewaktu saya
    wawancarai beliau tahun lalu. Yang dimaksudkan Pak Asril, beruntung Sumbar
    memiliki seorang Nofrin yang gigih dan tak pernah kapok mengirim SMS untuk
    meminta dukungan, menyebar informasi, menyemangati dan segala macamnya kepada
    siapa saja demi kereta api dan demi pariwisata Sumatra Barat.

    Apa yang ditulis di Kompas, memang begitulah adanya kawan kita yang satu ini.
    Waktu peresmian Mak Itam di Padangpanjang dan di Sawahlunto, saya sungguh
    terenyuh dengan Uda Nofrin. Tak satu kalimat ucapan terima kasih pun yang
    keluar dari mulut pejabat atas jasa dan kegigihan beliau, termasuk MPKAS. Dan,
    hari ini, Kompas membukakan mata kita semua.

    Soal pariwisata Sumatra barat (termasuk kereta api), ada dua sosok anak Minang
    yang perlu kita apresiet. Pertama Uda Nofrin dengan “modal nekat-nya”, kedua
    Uda Raseno Arya, orang Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Uda Nofrin dengan
    modal dengkul, Uda Raseno dengan modal APBN-nya yang berani mengucurkan ke
    Sumatra Barat untuk mengangkat wajah pariwisata Ranah Minang. Beliau cukup
    banyak menggelar kegiatan kepariwisataan sejak tahun 2005 hingga sekarang,
    termasuk meyakinan Dirjen Pemasaran Depbudpar untuk menggelar acara Tour de
    Singkarak. Meski beliau juga tidak memilih tampil ke depan, sesungguhnya gelora
    Tour de Singkarak itu adalah buah tangan beliau.

    Selamat Uda Nofrin. Semoga terus tanpa pamrih.

    Wassalam

    Syafruddin AL

  2. Sanak Yulnofrins Napilus, seorang tokoh muda
    yang secara ‘all out’ bukan saja mendorong hidupnya kembali di Sumatera Barat,
    tetapi juga bangkitnya dunia kepariwisataannya.
    Saya merasa beruntung mengenal beliau ini dari dekat. Dengan tidak mengurangi
    peranan dari para pegiat MPKAS lainnya, saya tidak ragu untuk mengatakan bawa
    pak Nof — begitu beliau saya panggil — adalah motor yang menggerakkan
    kembalinya ‘Mak Itam’, datangnya rombongan demi rombongan pencinta fotografi,
    pencinta kereta api, dan pencinta wisata Sumatera Barat.
    Yang hebatnya, seluruhnya itu dilakukan tanpa pamrih ! Beliau melakukannya demi
    cinta, con amore, terhadap Ranah Minang dan penduduknya.
    Pak Nof, salut setinggi-tingginya dari saya. Semoga Allah swt membalas budi dan
    amal baik Pak Nof dengan sebaik-baiknya. Amin.
    Saya ingin melihat tampilnya tokoh- tokoh muda lainnya mengikuti jejak pak Nof
    ini, dalam bidang-bidang lainnya, yang masih terbuka lebar untuk didorong maju.

    Wassalam,
    Saafroedin Bahar

  3. Saya bangga uda dan sy jg sdg berfikir cara mengembangkan pariwisata di kampung sy sungai sariak pariaman tepatnya lubuakpua balah air vii koto wisata kampung tradisional …
    Kebetulan sy fotografer mohon informasinya da..ayut 0816715413

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × 4 =