MPKAS Minta KA Shinkansen 300 Jepang

Padang, Padek—Setelah ber­hasil memperjuangkan “pu­lang­nya” kereta api (KA) Loko Uap Mak Itam dari Stasiun KA Ambarawa ke Sawahlunto, dan melobi Kementerian Perhu­bungan agar memberikan Railbus Bandara (Duku-BIM) ke Sumbar, Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera Barat (MPKAS) kembali meminta KA Shinkansen Series 300 ke Pe­merintah Jepang.

Informasi yang diperoleh Padang Ekspres dari Ketua MPKAS Kurnia Chalik dan Sekjen MPKAS Yulnofrins Na­pilus, kemarin (19/6), me­nyebutkan, KA Shinkansen Series 300 merupakan KA yang sudah pensiun. Permintaan MPKAS ke Pemerintah Jepang dilakukan lewat Duta Besar Indonesia untuk Jepang M Lutfi. “Kita minta KA tersebut untuk dibawa ke Ranah Minang, guna memperkuat armada KA Wi­sata kita yang telah ada saat ini,” kata Kurnia Chalik.

Upaya untuk itu sudah dila­kukan MPKAS dengan mela­kukan pertemuan bersama Firdaus Wajdi, orangtuanya Dubes Indonesia untuk Jepang M Lutfi di Hotel Ambara Blok M, pekan lalu. Dalam perte­muan dengan rang Kuraitaji Pariaman itu, Kurnia mewakili MPKAS membuat presentasi soal proses revitalisasi dan usaha-usaha yang dilakukan selama ini untuk meng­hi­dup­kan kembali dunia perke­reta­apian di Ranah Minang sejak tahun 2006. “Informasi dari Kurnia, hasil pertemuan itu sangat positif dan tinggal lagi, lebih mengintenskan komu­nikasi dengan pak Dubes di Jepang. Semoga kereta itu bisa dibawa ke Ranah Minang,” kata Yulnofrins.

Dalam pertemuan itu, juga ada masukan agar kereta api bisa menjadi salah satu media transportasi penting penunjang ekonomi untuk integrasikan potensi ekonomi kabupaten dan kota di Sumbar.

Sebelumnya, kata Kurnia, akhir tahun 2012 lalu dirinya selama 3 bulan ditugaskan kerja di Kantor Pusat INPEX di Akasaka Tokyo, sudah ber­upaya menemui orang-orang Jepang, untuk minta kereta Shinkansen Series 300 yang sudah dipensiunkan 20 Maret 2012, agar bisa dibawa ke Su­matera Barat. Namun, usa­hanya itu tidak boleh men­g­atasnamakan MPKAS, tapi mesti lewat prosedur antar pemerintah kedua negara (RI dan Jepang).

Kereta Shinkansen series 300 memiliki kecepatan 270 km/jam, dan tidak diope­rasi­kan lagi karena dianggap sudah ketinggalan zaman di Jepang dan digantikan Shinkansen Series 700 dan Shinkansen Max Toki dengan kecepatan di atas 300 km/jam. “Sayang kalau kereta Shinkansen 300 itu sampai dihancurkan dan di­daur ulang oleh Pemerintah Jepang. Alangkah baiknya ka­lau kita bawa pulang ke Ranah Minang. Apalagi interiornya masih bagus, seperti interior pesawat terbang dan kece­patan­nya pun masih di atas 200 km/jam,” jelas Kurnia. (esg)

Sumber : Koran Padek

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + 8 =