Mak Itam pun Tiba di Sawahlunto

Sejarah tua itu seperti melintas kembali, tatkala lokomotif Mak Itam (Kereta Api Uap) Minggu (14/12) tiba di di stasiun Muaro Kalaban, Sawahlunto. Loko hitam legap ini menempuh perjalanan darat dari Ambara dengan truk trikuler selama 10 hari. Berita Mak Itam pulang kampung cepat menyebar, ribuan warga Sawahlunto berduyun-duyun melihat langsung Mak Itam di Muaro Kalaban, bahkan sempat memacetkan jalur lintas Sumatra. Mak Itam terlihat gagah. Mak Itam adalah loko kereta api uap. Mungkin dibuat tahun 1902. Kereta api uap adalah kereta api yang digerakkan dengan uap air yang dibangkitkan/dihasilkan dari ketel uap yang dipanaskan dengan kayu bakar, batubara ataupun minyak bakar.

Itulah sebabnya, kendaraan ini dikatakan sebagai kereta api dan terbawa sampai sekarang. Sejak pertama kereta api dibangun di Indonesia tahun 1867 di Semarang memakai kereta api uap, pada umumnya dengan lokomotif buatan Inggris dan Belanda. Di dunia loko upa tertua namanya Stephenson’s Rocket dibuat 1829. Pada tahun 1955 Indonesia mengimpor lokomotif uap yang terakhir dari pabrik Krupp Jerman, yaitu model D. Lokomotif ini sangat kuat dan dipakai di berbagai kebutuhan untuk penumpang, barang maupun batu bara. Setelah beroperasi 40 tahun, maka berakhirlah pada tahun 1995 pengoperasian lokomotif uap ini.

Mak Itam selama ini menginap di Museum Kereta Api di Ambarawa dan payah membujuknya untuk bisa pulang kampung. Saat ini hanya tersisa kurang dari 70 unit yang masih berdiri sebagai monumen dan setidaknya masih ada 3 lokomotif uap di Ambarawa dan bernama Mak Itam yang pulang kampung itu.

Lalu 1 lokomotif uap di Cepu yang masih dapat beroperasi dan menemani para wisatawan menikmati kejayaan masa lalu. Sementara ratusan lokomotif uap lainnya telah dipotong bagian demi bagian, hanya sebagai besi tua belaka. Dengan wajah berseri bercampur haru, Walikota Amran, didampingi Sekdako Zohirin Sayuti, Kabag Humas Drs. Maiderzon dan Humas KAI Sumbar, Romio, menyebut kepulangan Mak Itam sebagai perjuangan panjang. “Hampir empat tahun memperjuangkan aset Sawahlunto yang tidak ternilai harganya ini, akhirnya bersama PT KAI Divre Sumbar dan bantuan Wapres HM Jusuf Kalla (JK), perjuangan keras tersebut terkabul, kendati ribuan warga Ambara berdemonstarsi ketika Mak Itam akan pulang kampung,” kata walikota Amran.

Sejak ‘merantau’ ke Ambarawa, Mak Itam menjadi penunjang pariwisata di daerah itu, namun karena berasal dari Sawahlunto, mereka akhirnya menyerah juga. “Kita bukan merampas, Mak Itam hanya pulang kampung,” kata Amran. Ditanya tentang gerbong yang akan mengangkut wisatawan, menurut walikota pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan pihak KAI agar gerbong yang pernah dinaiki Presiden Soeharto saat meresmikan Semen Padang, dimanfaatkan sebagai angkutan wisata ke Sawahlunto. Bukan itu saja Lobang Kalam sepanjang 800 meter Sawahlunto-Muaro Kalaban akan menjadi daya tarik kereta wisata Mak Itam nantinya. Sementara jalur angkutan yang akan dilalui kereta wisatawa dengan loko Mak Itam hanya rute Sawahlunto saja. “Ke depan kita pikirkan lebih lanjut, yang jelas kehadiran Mak Itam itu dapat mempercepat perkembangan pariwisata,” katanya.

Senin ini dilaksakan syukuran kepulangan Mak Itam dengan acara makan bersama di Sawahlunto, dilanjutkan peresmiaan operasional kereta wisata itu. Direncanakan 27 Desember mendatang Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri menyempatkan diri untuk datang kedua kalinya ke Sawahlunto. Biaya angkutan lokomotif Mak Itam ke Sawahlunto sepenuhnya dibebaban ke APBD Sawahlunto sebesar Rp200 juta lebih. Tentang besaran dana mengembalikan Mak Itam itu, menurut walikota tidak menjadi masalah, mengingat nilai lokomotif itu yang tidak dapat dinilai dengan uang. o*

 

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two + 19 =