Lokomotif Uap Mak Itam Segera Beroperasi Lagi

PADANG, KOMPAS — Setelah rusak lebih dari tiga tahun, lokomotif uap Mak Itam di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, berhasil diperbaiki. PT Kereta Api Indonesia (Persero) menargetkan pada pertengahan 2016 lokomotif uap yang didatangkan dari Ambarawa, Jawa Tengah, pada 2008 itu bisa beroperasi kembali dan ikut menggairahkan pariwisata Kota Sawahlunto.

Mak Itam tidak beroperasi sejak Maret 2013. Rusaknya 12 pipa pemanas membuat tekanan uap yang dihasilkan dari pembakaran batubara tidak cukup menggerakkan roda lokomotif. Sejak saat itu, Mak Itam diistirahatkan di depo. Hal itu berdampak langsung terhadap sektor pariwisata karena, baik wisatawan domestik maupun mancanegara, membatalkan kunjungan ke Sawahlunto setelah mengetahui Mak Itam rusak (Kompas, 26 Mei 2014).

Manajer Sarana PT KAI Divisi Regional (Divre) II Sumbar Dasrul di Padang, Senin (9/5), mengatakan, perbaikan Mak Itam berlangsung sejak 28 Januari hingga 26 April lalu. Tim terdiri dari 4 teknisi asal Padang yang memiliki pengalaman bekerja di Mak Itam, 1 pengawas dari Ambarawa, dan 3 pembantu dari Pemerintah Kota Sawahlunto.

Dasrul mengatakan, total anggaran untuk perbaikan Mak Itam mencapai Rp 598 juta yang berasal dari Divisi Heritage dan Konservasi PT KAI. Pengerjaannya ditangani oleh vendor asal Medan, Sumatera Utara. Perbaikan tidak hanya pada pipa, tetapi juga sejumlah bagian penting, seperti sistem cerobong asap, dan sistem roda.

“Sekarang, status Mak Itam siap beroperasi. Pada 25 April lalu, tim sudah melakukan uji hidup dan uji gerak di dalam depo. Sementara pengujian baru dilakukan di sana karena jalur keluar dari depo ke rel belum ada,” kata Dasrul.

Pantauan Kompas pada Sabtu (7/5), Mak Itam masih di deponya yang berada tidak jauh dari Museum Kereta Api Sawahlunto. Kondisinya lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan lebih segar karena sudah dicat ulang. Depo yang ambruk juga sudah diperbaiki. Hanya saja, keretanya masih di luar depo dan akan segera diperbaiki.

Setelah perbaikan Mak Itam, kata Vice President PT KAI Divre II Sumbar Sulthon Hasanudin, tahap selanjutnya adalah pembenahan rel dan jembatan. Pengerjaannya dikoordinasikan dengan Balai Teknik Direktorat Jenderal Perkeretapian Kementerian Perhubungan. Mengingat jalur dan jembatan sudah ada, pembenahan dilakukan tanpa perlu merombak total.

“Selain itu, kami juga akan mengadakan pertemuan dengan Pemerintah Kota Sawahlunto untuk membicarakan lebih detail kerja sama pengelolaan Mak Itam. Targetnya, Juni ini sudah beroperasi,” kata Sulthon.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sawahlunto Efriyanto mengatakan, keberhasilan perbaikan Mak Itam sangat berarti bagi mereka. Apalagi lokomotif uap tersebut menjadi ikon pariwisata Sawahlunto yang dikenal sebagai Kota Wisata Tambang.

“Setiap tahun, tercatat ada lebih dari 1.000 wisatawan, terutama mancanegara, yang membatalkan kunjungan ke Sawahlunto karena Mak Itam rusak. Sekarang, dengan kembalinya Mak Itam, kami berharap pariwisata Sawahlunto lebih bergairah lagi sehingga target satu juta wisatawan pada 2016 bisa tercapai. Tahun lalu, wisatawan yang datang ke Sawalunto sekitar 810.000 orang,” kata Efriyanto.

Dia mengatakan, jika sudah beroperasi, rute perjalanan wisata dengan Mak Itam yang akan ditawarkan ke wisatawan adalah dari Kota Sawahlunto menuju Danau Singkarak di Tanah Datar dan Solok. Tentu sebelum sampai ke sana diperlukan promosi untuk memperkenalkan kembali Mak Itam kepada masyarakat.

Ketua Umum Masyarakat Peduli Kereta Api Sumbar Kurnia Chalik optimistis kembalinya lokomotif uap yang berhasil mereka datangkan lewat proses panjang dan biaya yang tak sedikit pada 2008 ke Sawahlunto itu akan berdampak besar terhadap pariwisata Sawahlunto. Apalagi Sawahlunto memiliki berbagai obyek wisata yang bisa diintegrasikan dengan Mak Itam.

“Kami yakin, Mak Itam bisa menjadi magnet pariwisata laiknya lokomotif uap Duranggo di Colorado, Silverstone, Amerika Serikat, yang berhasil menarik jutaan wisatawan setiap tahun. Agar itu terwujud, perlu kerja sama yang baik antara PT KAI dan pemerintah kota serta pemangku kepentingan lainnya. Bahkan, belajar dari pengelolaan Duranggo juga perlu dilakukan,” kata Kurnia. (ZAK)

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen − seven =