Liukan ‘Mak Itam’ di Lembah Anai

Bernostalgia dengan kereta wisata dari Padang ke Lembah Anai,

Tut....! Tut....! Peluit kereta api melengking keras
memecah keheningan pagi yang cerah pukul 08.30 WIB di
Stasiun Simpang Haru Padang akhir tahun lalu. Para
pencinta kereta api dengan tentengan kamera, handycam
dan ransel bergegas masuk ke gerbong dan duduk dengan
nyaman. 
‘Mak Itam’ begitu orang Minag menyebutkan, sudah
datang!

Lokomotif kereta berwarna merah dengan suara desis
mesinnya yang khas perlahan mulai bergerak menyeret
tiga gerbong serta satu loko bergigi menyusuri rel
meninggalkan stasiun yang sepi itu.

Pagi itu saya bersama rombongan pencinta kereta api
dari Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera Barat dan
Indonesian Railway Preservation Society mencoba rute
Kereta Api Wisata dari Padang ke kawasan wisata Lembah
Anai yang eksotis itu. 

Ini juga untuk pertama kalinya rute ini digunakan
untuk wisata, sejak zaman Kolonial Belanda dulunya
hanya digunakan untuk rute kereta pengangkut batubara
dari Sawahlunto ke Padang. 

“Tak ada yang lebih indah dari hari ini, saya sangat
bahagia bisa melihat lagi kereta api lewat di Sumatera
Barat, tidak hanya menjadi besi tua,“ kata Chaidir
Nien Latif, 79 tahun, bekas pejabat PJKA (Perusahaan
Jawatan Kereta Api) yang kini menjadi “aktivis kereta
api”. 

Senyumnya tak henti mengembang. Semasa jadi pejabat
PJKA dulunya ia sukses menghidupkan loko uap di
Ambarawa. Obsesinya paling besar saat ini adalah
menghidupkan kembali kereta api di Sumatera Barat yang
telah mati suri sejak empat tahun lalu.

Bersama perantau Minang yang ada di Jakarta dan
Bandung, Chaidir Latif membentuk komunitas pencinta
kereta api yang dinamai Masyarakat Peduli Kereta Api
Sumatera Barat.

“Ranah Minang lebih indah dari tempat lain, bayangkan
di sini kita bisa berkeliling Danau Singkarak naik
kereta api, ke Lembah Anai dan Bukittinggi dengan
kereta api, sungguh luar biasa," ujarnya lagi. 

Dengan kecepatan hanya 40 kilometer per jam, setelah
keluar dari kota Padang, kereta api mulai melewati
pemandangan khas pedesaan. Burung-burung gelatik putih
tampak beterbangan di atas hijaunya hamparan sawah.
Kereta juga melewati ladang rambutan, durian, serta
barisan pohon kelapa di pinggir jalan. Wah, sungguh
menyejukkan mata. Rasanya kereta api wisata memang
lebih pas di Ranah Minang, karena pemandangan alam
yang indah terhampar sepanjang jalan.

Dua jam dari Padang, menjelang Stasius Kayutanam,
kereta melewati kompleks Ruang Pendidik INS Kayutanam
yang luas dengan pohon-pohon tuanya yang rindang. INS
(Indonesich Nederlandsche School) adalah sekolah
kreatif yang didirikan oleh Engku Moehammad Sjafei
pada 31 Oktober 1926 yang kini menjadi SMA Plus. Salah
satu murid INS adalah A. A. Navis, sastrawan nasional
yang terkenal dengan cerpennya “Robohnya Surau Kami”. 

Kereta api yang kami tumpangi kemudian berhenti di
Stasiun Kayu Tanam untuk ganti lokomotif. Lokomotifnya
diganti dengan loko bergigi yang dari tadi ditarik di
gerbong paling belakang. 

Lokomotif khusus untuk rel bergigi ini diperlukan
untuk rel yang menanjak tajam seperti melewati kawasan
Lembah Anai yang tinggi dan terjal sepanjang 33,8 Km
yang akan dilewati. 
Tak lama Lokomotif bergigi yang tetap di posisi
belakang gerbong mulai dihidupkan untuk mendorong
empat rangkaian gerbong ke Lembah Anai. Dengan
cengkeraman gigi besinya pada tengah bantalan rel,
perlahan kereta mulai bergerak mendaki melewati
tanjakan-tanjakan yang tinggi. Gesekan gigi besi
lokomotif dengan bantalan rel kereta membuat
getarannya lebih terasa.
Kereta akan melewati Lembah Anai yang terkenal dengan
bukit dan jurangnya yang terjal, serta air terjun dan
sungainya yang jernih. Menurut Rusli Amran dalam
bukunya Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, pada
tahun 1833 semasa Kolonial Belanda Gubernur Jenderal
Van den Bosch, sewaktu berkunjung ke Sumatera Barat
terpesona melihat alam Lembah Anai dengan Batang
(sungai) Anai yang berhasil menerobos Bukit Barisan. 
Van den Bosch orang pertama yang memerintahkan membuat
jalan raya mengikuti alur Batang Anai berikut jalur
kereta api. 

Jalur kereta api yang melewati Lembah Anai selesai
dibangun 1881. Jalur kereta api ini menghubungkan Emma
Haven (sekarang Pelabuhan Teluk Bayur) di Padang
ke Sawahlunto sepanjang 155,5 km. Rel kereta ini
melewati Lembah Anai, Padang Panjang, tepian Danau
Singkarak dan terus ke Kota Sawahlunto. 

Kereta mulai masuk ke dalam hutan bukit barisan yang
masih rapat. Samping kiri kanan pemandangannya
bertukar dari sawah ke perdu dan pohon hutan tropis
yang khas. Udara juga mulai terasa dingin dalam
gerimis yang tipis. Kereta melaju perlahan di atas
jembatan plat baja sepanjang 50 meter. Cukup
mendebarkan melihat Batang Anai jauh di bawah. Namun
pemandangannya sungguh eksotis. Lembah, Batang Anai
yang kecil namun cantik, serta air terjunnya yang
mengucur deras dari dinding bukit yang terjal. 

Kereta berhenti di ujung jembatan di seberang air
terjun Lembah Anai yang amat cantik. Seperti yang
lain, saya langsung turun dan menikmati panorama
Lembah Anai. Tak lupa merendam tangan dan cuci muka di
air terjunnya. Duh, segarnya.

Lembah Anai dengan air terjunnya yang terkenal sudah
lama dijadikan kawasan wisata. Udaranya dingin dengan 
pohon-pohon yang menutupi Bukit Barisan yang tinggi di
sekelilingnya.

Air terjun Lembah Anai dan air Batang Anai di bawahnya
di antaranya berasal dari Gunung Singgalang yang
terletak di bagian utara dan anak-anak sungai dari
Gunung Merapi yang mengalir melalui Kota Padang
Panjang. Airnya mererobos Bukit Barisan yang menjadi
air terjun Lembah Anai persis di sebelah jalan raya . 

Batang Anai juga menampung hampir semua air yang
datang dari lereng bagian barat bukit barisan. Untuk
mencari jalan ke daratan rendah sebelum mencapai laut
bebas, Batang Anai memaksakan diri di celah-celah
bukit barisan dengan dinding yang terjal. 

Perjalanan wisata kereta api ini dilanjutkan ke
Stasiun Kereta Api Padang Panjang. Kereta melaju
melintasi jembatan Lembah Anai menyusuri tepian
sungai. Tak berapa lama, kereta melintasi jembatan
Silaing yang amat tinggi dan curam. 

Bayangkan saja, jembatan kereta api ini menghubungkan
antara puncak bukit ke bukit satunya lagi. Panjang
jembatannya 101 meter dengan ketinggian 50 meter, ini
membuat perjalanan serasa melayang di udara. Luar
biasa mendebarkan hati. 

Kereta berhenti di Stasiun Padang Panjang. Saat
kembali ke Kayu Tanam, kali ini loko bergigi tidak
lagi mendorong dari belakang, tetapi dengan gagah
melaju di depan menyeret sambil menahan gerbong
melintasi Lembah Anai. Tut... tut... tut....!
(Febrianti)

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × 1 =