Kureta Solok

Hari ini jam 20:54

PADA suatu masa, sekitar tahun 1960 sampai 1970-an, lagu-lagu Minang pernah
berjaya dan menjadi lagu populer di penjuru Tanah Air. Penggemarnya tak
hanya orang Minang tetapi juga warga provinsi lainnya bahkan sampai ke
penduduk semenanjung Malaysia. Publik pun dibuat akrab dengan nama-nama Elly
Kasim, Nuskan Syarief, Lily Syarief atau Tiar Ramon.

Tentu nama-nama diatas hanya akrab bagi telinga penduduk Sumatera Barat
saja. Secara nasional, orang hanya mengenal segelintir lagu dan satu dua
nama penyanyi seperti "Teluk Bayur", sebuah lagu yang dipopulerkan Erni
Djohan, berkisah tentang seorang yang akan pergi merantau dan harus berpisah
dengan semua yang dicintainya di pelabuhan Teluk Bayur. Ada juga "Ayam Den
Lapeh" yang diartikan sebagai kehilangan kekasih dan bisa didengar di corong
radio-radio Indonesia saat itu lewat suara biduan Elly Kasim. Elly juga
mahsyur lewat "Barek Solok" yang merupakan testimoni dalam tradisi seni
bahwa masakan Padang atau beras Solok tak hanya enak dimakan juga enak
didengar.

Seperti watak lagu dangdut yang bersedih-sedih sampai mati karena cinta,
lagu Minang juga terkenal dengan karakter muramnya. Begitu banyak lagu
diciptakan mengangkat tema kesedihan cinta. seperti lagu "Rintihan di Hari
Sanjo", ciptaan Rustam Raschani yang dipopulerkan Wati Yusuf di tahun 1978.
Dalam lagu ini, seorang pendengar bisa mendapatkan bayangan tentang seorang
pecinta yang hatinya senantiasa terlanda pedih saat hari beranjak senja.
Saat langit menjadi merah saga karena itu mengingatkannya pada orang yang
dicintainya.

Tapi tak semua bertemakan cinta antara anak manusia. Lebih banyak lagi lagu
yang didedikasikan pada kampung halaman dalam konteks pelepas rindu terutama
bagi kaum perantau. Dulu semua radio di memutar lagu "Kampuang Nan Jauh Di
Mato". Lagu yang bercerita tentang kerinduan pada kampung halaman yang telah
ditinggalkan. Kini lagu ini dengan mudah kita dengar jika naik mobil Patas
di jalanan Jakarta. Pengamen (atau seniman jalanan) yang cerdik membawakan
lagu-lagu tradisional daerah untuk mengumpulkan uang lebih banyak lagi
dengan memanfaatkan perasaan hati kaum perantau yang dilanda rindu kampung
saat mendengar lagu asal daerah mereka dimainkan.

Kerinduan pada kampung halaman dalam lagu Minang dilalukan lewat tema-tema
alam yang permai, gunung yang hijau, sungai tempat mandi dulu atau mande
(ibunda) di kampung yang menjadi tema abadi sebagai perwujudan perasaan
terdalam dari semua kerinduan. Siapa sangka dibalik "tema kebanyakan" ini,
ada lagu yang secara nasional tidak seflamboyan "Kampuang Nan Jauh Di Mato",
namun kemegahan nostalgis yang dibangkitkannya begitu dalam bagi publik
Sumatera Barat (urang awak) yang mendengarnya. Lagu itu berjudul "Kureta
Solok" dan dari judulnya setiap kita bisa menebak ini pasti ada sangkut
pautnya dengan sosok kereta api.

Kereta api dalam lagu

Kureta Solok adalah lagu perpisahan sekaligus kerinduan. Ia bercerita
sepasang kekasih yang berpisah di stasiun kereta api. Agaknya si gadis yang
melepas si tuan mudanya. Katanya pada sang penguasa hatinya itu, "Kok isuak
tuan taragak, Pandanglah langik dihari sanjo" yang kira-kira berarti "Jika
esok hari Tuan merasa rindu, pandanglah langit di hari senja".

Seiring kata-kata sang gadis, berpisahlah mereka berdua. Mesin mulai
berjalan. Bunyinya menderam berat. Peluit masinis menjerit. Asap hitam
membumbung tinggi ke langit dan kereta batu bara pun mulai berjalan. Stasiun
adalah tempat berpisah. Perpisahan yang menguji cinta mereka. Cinta yang
dibawa orang yang pergi.

Bicara tentang lagu yang ada kereta apinya, paling kita cuma ingat lagu
kanak-kanak berjudul "Naik Kereta Api". Lagu yang mengingatkan kita pada
kenangan manis kecil dahulu walaupun pasti ada dari kita yang tak pernah
naik kereta api di waktu kecil. Secara psikologis, pernah naik atau belum,
lagu ini mewakili perasaan hati dewasa kita akan momen berbahagia saat masih
bocah. Saat kita berpesiar bersama orang tua ke Bandung atau Surabaya dan
siapapun hendak turut, bolehlah ikut dengan percuma karena bahagianya hati
kita saat itu dan kita ingin seisi dunia juga ikut bahagia.

Jelas "Naik Kereta Api" adalah sejenis lagu kanak-kanak riang yang bisa kita
dengar dalam momen-momen seperti acara perpisahan atau ulang tahun seorang
murid di Taman kanak-Kanak. Sedangkan lagu Kureta Solok adalah adalah lagu
dewasa yang berat. Kureta Solok adalah lagu yang bercerita di suatu zaman
saat kereta api masih ada di bumi Minangkabau, digunakan khayalak saat itu
sebagai alat berpergian. Keberadaan kereta api yang disebut "kureta" oleh
lidah setempat pun menjadi inspirasi tersendiri oleh seniman Minang untuk
mengubah lagu yang berlatar kereta api.

Kureta Solok mengambil waktu di zaman kuno nun jauh ke masa silam. Mendengar
Kureta Solok kita dapati si gadis yang sedang melepas kekasihnya yang akan
pergi jauh menumpang naik kereta api disuatu stasiun. Lagu yang berkisah
tentang peristiwa historis dimana Belanda dulu pernah membangun rute
kolonial di Sumatera. Rute yang menghubungkan kota Padang, kota terbesar
koloni Belanda di Minangkabau saat itu ke terminus kota tambang batu bara
Sawahlunto di pedalaman. Sampai kolonial sudah diusir keluar dari Sumatera,
Mak Itam tetap dipertahankan untuk melayani masyarakat saat itu bepergian
dari dan ke beberapa kota Sumatera Barat. Rel yang berjalan dari Padang yang
terletak di pinggir air lautan di barat sana menuju kota-kota pedalaman yang
lain seperti Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh dan Solok.

Tahun 1982, lengkingan Mak Itam berhenti terdengar. Lokomotif uap yang hitam
agung itu digantikan oleh kawannya yang lebih modern. Kereta api penumpang
pun tak ada lagi. Pemerintah Sumatera Barat hanya mengoperasikan satu jenis
kereta api saja yakni lokomotif diesel yang menjadi alat angkut batubara
dari Sawahlunto ke Pelabuhan Teluk Bayur Padang untuk selanjutnya di kirim
ke pabrik Semen Indarung di kota Padang. Mak Itam lalu dikirim ke kota
bernama Ambarawa nun di Jawa sana. Di tanah asing ia berdiri sedih dan
menjadi kelabu.

Rute Mak Itam pun menghilang dimakan waktu. Jika Tuan sudi berjalan dari
Bukit Tinggi ke Payakumbuh, tampak di sebelah bahu jalan, jalur Mak Itam
sudah dibongkar habis tak bersisa berubah jadi fondasi rumah penduduk,
warung kopi atau kios penjaja buah tangan lokal. Dari kota kecil Sicincin
yang terletak di kaki Gunung Tandikek, besi rel bergigi Mak Itam yang
menanjak naik ke Padang Panjang di ketinggian sana lenyap di rimbunan rimba
dan lebat ilalang Lembah Anai. Memasuki stasiun Padang Lua menuju Bukit
Tinggi, besi relnya hilang sudah diambil maling.

Kembalinya Mak Itam

Syukurlah sebagian dari yang hilang itu kini sebagian kembali. Berawal dari
berdirinya Museum Kereta Api di Sawahlunto dan komitmen memajukan industri
pariwisata Sumbar, sebuah komunitas yang menamakan diri Masyarakat Peduli
Kereta Api Sumatra Barat atau MPKAS bersama Pemerintah Kota Sawahlunto,
sejak empat tahun lalu berjuang mengembalikan Mak Itam kembali ke daerah
yang dilayaninya. Persetujuan pun datang dari PT Kereta Api dan Propinsi
Jawa Tengah. Akhirnya setelah lama diam termenung di Museum Kereta Api
Ambarawa, 4 Desember 2008, seperti perantau urang awak yang lama di tanah
orang, Mak Itam pulang kampung ke Ranah Minang. Amboi lihatlah Tuan semua,
Mak Itam sudah segeh (gaya) benar. Pada Sabtu, 21 Februari 2009, Bapak
Menteri Perhubungan dan serangkaian pejabat dari ibukota berkenan datang
melihatnya. Tuuiiit tuiiit, terdengar benar senang hati suaranya. Hari itu,
rute hilang telah dihidupkan kembali.

Mak Itam bagi orang Minang serupa kain bugis yang tergadai. Lama di tangan
orang, kini ditebus kembali. Kita lihat hari ini kain yang sudah lama
dilipat dalam peti dibuka kembali. Dari Simpang Haroe, kain itu dibentangkan
dan terus membuka sampai ke Stasiun Tabing terus ke Stasiun Loeboek Boeaya
terus ke Pasa Oesang, berjalan lagi ke Loeboek Aloeng, dari Sicincin naik ke
Lembah Anai dan sampai ke kota Padang Panjang untuk selanjutnya memutar ke
kanan menderu khidmat di tepian danau Singkarak yang permai menuju Stasiun
Kampoeang Teleng, Sawah Loento, terminus di jantung Sumatera. Dalam bahagia
perasaan, terasa benar megah syair lagu Kureta Solok melihat Mak Itam gagah
berjalan di atas rel besi. Terkenang kembali suasana zaman tempo dulu. Saat
anak dara Minang berjanjian di stasiun melepas Uda terkasih (atau Mas
menurut lidah Jawa) berangkat ke negeri seberang naik kapal laut. Untuk
mencapai Teluk Bayur, pelabuhan semua orang Minang saat itu, sang Uda pun
menumpang naik kereta api.

Semoga dengan dioperasikan kembali rute Padang-Panjang menuju Sawah Lunto,
sebagian dari kenangan lama ini bangkit kembali. Menginspirasi kaum seniman
mengubah nyanyian lebih elok lagi dan dengan itu sejuta kenangan pun
tercipta. Kenangan saat di atas bumi Minangkabau masih berjalan kereta api.
Secuplik episode dari sejarah panjang perkereta-apian Nusantara, sejarah
negeri kelahiran yang kita cintai dan Kureta Solok bersaksi untuk semua
keindahan itu.

Berikut lirik lagu KURETA SOLOK yang dipopulerkan biduan mahsyur urang awak,
etek Elly Kasim

Babunyi kureta Solok
Manyauik kureta Padang
Nan pai hati tak elok
Urang nan tingga darah tak sanang

Berbunyi kureta Solok
Menyahut kureta padang
Yang pergi hatinya tak tenang
Orang yang tinggal darahnya tak senang

Badaram badatak datak
Malapoh bunyi masinnyo
Kok isuak tuan taragak
Pandanglah langik dihari sanjo

Berderam mendetak-detak
Malapoh bunyi mesinnya
Jika esok tuan merasa rindu
Pandanglah langit di hari senja

Hilang dibaliak bukik
Asok mambubuang tinggi

Hilang dibalik bukit
Asap membumbung tinggi

Kureta ba batu baro
Taksiun tampek baranti
Bapisah mauji cinto
Cinto dibaok urang nan pai

Kureta nan membawa batu bara
Stasiun tempat berhenti
Berpisah menguji cinta
Cinta dibawa orang nan pergi

Hilang dibaliak bukik
Asok mambubuang tinggi

Hilang dibalik bukit
Asap membumbung tinggi

tulisan ini saya posting disini semoga menjadi sambung rasa antara semua
pecinta kereta api Nusantara khusunya anggota Kompak dan MPKAs Sumbar

wassalam

Haris Abang pada 28 Mei 20:55
oh iya tulisan ini alhamdulillah dimuat di Majalah Kereta Api-sebuah majalah
komunitas pecinta kereta api Nusantara edisi Mei 2009

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 − one =