Ke Sawahlunto, Mak Itam Kembali

Ratusan warga Sawahluto, Sabtu (21/2) siang memadati Stasiun Kereta Api Sawahlunto. Mereka ingin meyaksikan diaktifkannya lokomotif uap E1060 yang terkenal dengan panggilan Mak Itam.

makitam

Pukul 5 sore, kereta api wisata yang membawa Menteri Perhubungan Djusman Syafei Djamal dan Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi mulai memasuki Kota Sawahlunto dari arah Mesjid Raya Sawahlunto.

Mesin Lokouap yang ada di depan stasiun mulai dihidupkan. Dua Masinis dan asisten masinis yang berpakaian seragam putih-putih ala menir Belanda mulai menghidupkan ‘dapur ‘ lokouap. Mengatur mesin secara manual dengan tangan, memasukkan batubara ke dalam tungku pemanggang, dan mengukur tekanan uap.

Tak lama, lokouap mulai mengepulkan asap hitam yang tebal. Suara mesinnya yang khas mulai terdengar berdesis. Saat lokouap mulai berjalan di atas rel sambil mengeluarkan asap atas dan bawah, juga mengeluarkan percikan air ke udara. Ratusan warga yang menyaksikan bersorak gembira saat terompet Mak Itam dibunyikan dan terkagum-kagum pada kepulan asap Mak Itam yang bergerak perlahan menyambut kereta api wisata hingga bersisian.

Pengunjung berebutan berfoto di depan lokouap. Wajah-wajah pegawai PT KAI Devisi Regional Sumatera Barat memancarakan kegembiraan. Mereka bergantian berfoto di depan Mak Itam bersama teman-teman berpakaiana ala Menir Belanda.

Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi mengatakan, perjalanan Mak Itam yang didatangkan ke Sumatera Barat melalui jalan panjang dan diperjuangkan oleh Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera Barat (MPKS).
“Kembalinya Mak Itam tak terlepas dari usaha MPKAS, dulunya Mak Itam ke Ambarawa karena di ranah dianggap baguno balun, tetapi sekarang sudah kembali ke Sumatera Barat karena sekarang sudah berguna,” kata Gamawan.

Ia mengatakan, karena keunikan lokouap ini, jangan sampai dijual murah, tetapi dijual mahal untuk wisata. Sebab lokouap sudah langka dan punya sejarah yang panjang.

Menteri Perhubungan mengatakan, dengan lokouap diharapkan akan melengkapi Sawahlunto sebagai ‘Living Museum’. Lokouap amat istimewa, karena sarat sejarah dan tak terlepas dari sejarah Kota Tambang Sawahlunto dan sejarah dunia perkeretaapian di Indonesia. “saya harapkan ini dapat bermanfaat untuk membangkitkan dunia pariwisata di Sumatera Barat,” ujarnya.

Sejarah Mak Itam
Sejarah kereta api di Sumbar memang dimulai dari ditemukannya cadangan batubara di Sawahlunto akhir abad ke-19. Belanda membangun jalur kereta api dari Pelabuhan Emma Haven (sekarang Pelabuhan Teluk Bayur ) dari Padang ke Sawahlunto, sepanjang 155,5 Km.

Jalur kereta api yang dibangun Belanda bukan cuma di Sawahlunto. Melainkan pula di berbagai kota di Sumatra Barat sebagai transportasi umum. Contohnya jalur kereta api dari Lubuk Alung ke Pariaman (20,9 Km), Padang – Padangpanjang (68,3 Km), dan Bukitttinggi – Payahkumbuh (33 Km). Bahkan jalur kereta sampai ke Muara Padang. Totalnya jalur kereta api di Sumatera Barat sepanjang 240 km.

Menipisnya cadangan batu bara di Sawahlunto, mengakhiri kejayaan kereta api di Sumbar sejak tahun 2003. Sungguh sayang aset peninggalan Belanda yang mempunyai nilai sejarah ini dibiarkan teronggok menjadi besi tua. Sepatutnya barang- barang seperti itu dilestarikan untuk dikelola menjadi kereta api wisata. Menurut Cristy, kepala Museum Kereta Api Sawahlunto, koleksi peralatan kereta api di museum ini sekitar 80 koleksi yang didapat dari PT. KAI.

Di Sawahluinto yang dapat julukan Kota Tambang ini juga ada Museum Kereta Api yang menyimpan beragam koleksi perkeretaapian Sumbar. Sawahlunto yang letaknya 98 km arah Timur Kota Padang, Sumbar, dulu menjadi rebutan banyak pihak karena buminya kaya dengan batu bara. Bekas kejayaannya sebagai Kota Tambang, kini dikemas menjadi beberapa obyek wisata sejarah, salah satunya Museum Kereta Api.

Museum Kereta Api terletak di Jalan Abdul Rahman Hakim, Kampung Aya Dingin, Sawahlunto, Sumbar. Museum yang mempunyai luas 1.500 meter persegi ini berjarak sekitar 5 km dari Muaro Kalaban.

Di museum ini dipajang berbagai peralatan kereta api, seperti label pabrik, dongkrak, rel, sinyal kereta, dan alat komunikasi, foto-foto tentang perkeretaapian di Sumbar. Semuanya tersimpan rapih di museum ini, Selain itu, di halaman museum juga terdapat beberapa gerbong pengangkut batu bara, dua gerbong yang terbuat dari kayu, dan sebuah lori wisata. (Padangkini/majalah travel)

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen − three =